PROGRAM MAGANG IDUKA 2023: DINAS KEBUDAYAAN BULELENG
Program Magang IDUKA 2023 yang penulis ikuti dilaksanakan di Jalan Veteran No. 23 Singaraja, Kelurahan Paket Agung, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia, bertempat di Dinas Kebudayaan Buleleng.
Program magang IDUKA 2023 yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha merupakan implementasi sistematis dan terkoordinasi antara program pendidikan dan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui pengalaman langsung di dunia kerja, bertujuan untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Salah satu inisiatif dalam kerangka kebijakan ini adalah program Kampus Merdeka, yang merupakan bagian dari Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi (Kemendikbudristek, 2020). Program magang IDUKA 2023 merupakan bagian dari Hak Belajar Tiga Semester di Luar Program Studi ini, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan teori yang telah dipelajari dalam konteks dunia kerja nyata.
Dinas Kebudayaan Buleleng adalah lembaga
teknis pelaksana yang merupakan bagian dari pemerintah Kabupaten Buleleng
sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Buleleng Nomor 13 Tahun 2016,
tertanggal 30 November 2016, yang mengatur pembentukan dan susunan Perangkat
Daerah. Struktur organisasi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng melibatkan
seorang Kepala Dinas, satu Sekretaris, tiga Kepala Bidang, sepuluh Kepala
Pamong/kasubag, dan satu Kepala UPTD Gedong Kertya.
Dinas
Kebudayaan Buleleng bertanggung jawab membantu Bupati dalam melaksanakan urusan
pemerintah di bidang kebudayaan dengan fokus pada pengembangan potensi
kebudayaan di Buleleng. Tugasnya juga mencakup pelestarian warisan budaya tak
benda yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Alamat kantor Dinas Kebudayaan
Kabupaten Buleleng terletak di Jalan Veteran No. 23, Singaraja-Bali, dengan
batas wilayah yang dijelaskan lebih lanjut:
1)
Sebelah Utara :
Berbatasan dengan Dinas Kesehatan
2)
Sebelah Selatan :
Berbatasan dengan Puri Buleleng
3) Sebelah Timur : Berbatasan dengan Pasar Buleleng
4) Sebelah Barat : Berbatasan dengan Lapas II Singaraja
Selama periode magang di Dinas Kebudayaan Kabupaten
Buleleng, peserta ditempatkan di
Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, terutama fokus pada pengelolaan Museum
Buleleng. Dalam pelaksanaan magang, terdapat beberapa tahapan kerja yang
dijalankan, seperti pada:
1) Menjaga Tarif Masuk ke Museum
Dalam menjaga tarif museum, langkah yang diambil
melibatkan penyambutan tamu dengan ramah dan sopan, dimulai dengan memberikan
salam untuk menciptakan kesan positif bagi pengunjung museum. Selanjutnya,
dilakukan pengecekan terkait kepemilikan surat kunjungan oleh pengunjung,
terutama bagi mereka yang berasal dari sekolah atau kampus. Pengunjung yang
membawa surat kunjungan biasanya tidak dikenai biaya masuk, sementara
pengunjung tanpa surat kunjungan akan dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 per
orang, termasuk baik pengunjung lokal maupun internasional. Setelah itu,
pengunjung diminta untuk mengisi buku daftar kunjungan yang mencakup informasi
seperti nama, alamat, asal pengunjung/nationality, dan tanda tangan sebagai
tanda kehadiran.
2) Menghandle
Guest/Tamu yang Berkungjung ke Museum
Dalam melayani pengunjung museum, penting untuk
menggunakan bahasa dan sikap yang sopan guna menciptakan suasana yang nyaman.
Selain itu, cara penyampaian informasi atau penjelasan mengenai artefak di
dalam museum juga harus menarik. Pelayanan terhadap pengunjung dimulai dengan
mengajak mereka ke ruangan pertama yang memamerkan gambar dan lukisan-lukisan
bersejarah, seperti mobil pada masa prasejarah, wayang, dan patung-patung dewa
yang dihormati oleh masyarakat Hindu di Bali. Ruangan kedua, yaitu ruangan
etnografis, menampilkan berbagai peralatan rumah tangga yang digunakan pada
zaman dahulu, termasuk tombak, alat pertanian tenggala/bajak, alat rumah tangga
seperti piring kau, procot, gandek, dan lainnya. Selain itu, ruangan ini juga
menampilkan artefak prasejarah seperti patung, senjata batu, serta benda-benda
kuburan seperti gelang, manik-manik, dan koin-koin.
Setelah itu, pengunjung didampingi untuk menjelajahi
artefak kepurbakalaan yang terletak di halaman museum, termasuk beberapa
sarkofagus yang berasal dari berbagai desa di Buleleng.
3) Melakukan Pemeliharaan terhadap Koleksi Barang di
Museum
Upaya pemeliharaan koleksi museum dilakukan secara
berkala guna menjaga kondisi koleksi agar tetap optimal. Kegiatan ini
dilaksanakan dengan bantuan dari staf museum yang memiliki pengetahuan lebih
dalam tentang metode membersihkan koleksi dan pemeliharaan jumlah koleksi
secara keseluruhan. Proses pemeliharaan museum dimulai dengan membersihkan
koleksi yang terletak di luar lemari penyimpanan dan melanjutkan dengan
membersihkan lemari penyimpanan itu sendiri, termasuk penghilangan debu dan
pembersihan kaca lemari. Selain itu, koleksi di museum juga diperiksa jumlahnya
dan kondisinya untuk memastikan tidak ada barang atau koleksi yang hilang atau
rusak akibat interaksi pengunjung.
4) Menjalankan Kewajiban untuk Membantu Kegiatan Bidang
Sejarah dan Cagar Budaya
·
Lomba Menggambar
Lomba Menggambar yang diselenggarakan pada Kamis, 2
November di Situs Cagar Budaya mengangkat tema tokoh "Nyoman Rai
Srimben" dan diikuti oleh 50 peserta tingkat SD dari berbagai sekolah di
Kecamatan Buleleng. Sementara itu, pada Jumat, 3 November, kegiatan ini
dilanjutkan dengan melibatkan 50 peserta dari tingkat SMP di Kecamatan
Buleleng. Pelaksanaan kegiatan dimulai dari pukul 07.30 hingga 12.00 dengan
rangkaian acara dari registrasi hingga pengumuman hasil juara.
Dalam penyelenggaraan lomba menggambar, tugas dan
proses kerja mencakup persiapan tempat, pemasangan spanduk, penataan kursi,
meja, dan pengaturan sound system. Tim juga bertanggung jawab untuk mengambil
dan mendistribusikan konsumsi kepada peserta lomba dan tamu undangan. Setelah
lomba selesai, tugas terakhir melibatkan membersihkan tempat dan mengembalikan
barang serta peralatan ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng.
·
Pendataan Cagar
Budaya yaitu Bangunan Pura
Terlibat aktif dalam kegiatan inventarisasi cagar
budaya yang berlangsung di Pura Sari Besikan Desa Bungkulan. Dalam kegiatan
ini, kami turut serta dalam membantu pencatatan profil pura, termasuk mencatat
dimensi bangunan bale, arca, pilar, dan elemen lainnya. Selain itu, kontribusi
kami juga melibatkan dokumentasi bangunan pura dan artefak bersejarah yang
terdapat di sana, menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian dan
dokumentasi warisan budaya yang berharga.
·
Eksebisi Permainan
Tradisional “Mejaran-jaranan”
Sebagai
upaya untuk melestarikan permainan rakyat di tengah era digital, Pemerintah
Daerah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan mengadakan program eksibisi
permainan mejaran-jaranan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan warisan
budaya ini kepada generasi milenial, khususnya anak-anak Sekolah Dasar di
wilayah Kelurahan Banyuning. Lokasi kegiatan berada di Wantilan Pura Dalem
Banyuning Timur, Kecamatan Buleleng. Peran kami dalam kegiatan ini melibatkan
berbagai tugas, mulai dari penataan tempat eksebisi, pengaturan kursi, hingga
pemasangan spanduk acara. Selain itu, kami juga turut membantu dalam distribusi
konsumsi kepada undangan dan peserta eksebisi, termasuk siswa SD yang
berpartisipasi dalam acara ini. Sebagai langkah terakhir, kami turut serta
dalam merapihkan tempat kegiatan, membersihkan area, dan mengembalikan
peralatan yang digunakan selama kegiatan kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten
Buleleng.
Kendala dan Solusi
1.
Kendala/Hambatan
a)
Beberapa lokasi penyajian koleksi di
museum, seperti pameran gambar dan lukisan, tampak kurang menarik. Hal ini
disebabkan oleh kerusakan alas lukisan yang terbuat dari styrofoam yang telah
menjadi rapuh dan tidak dapat digunakan lagi. Keadaan ini dapat memengaruhi
kesan tamu yang berkunjung, membuat mereka merasa kurang puas dengan kondisi museum.
b)
Jumlah benda atau koleksi yang dipamerkan
di Museum Buleleng yang tergolong sedikit dapat menjadi penyebab kurangnya
minat masyarakat atau pengunjung untuk mengunjungi museum tersebut. Situasi ini
dapat diperparah oleh kurangnya variasi dan keragaman dalam koleksi, yang
mungkin tidak mencukupi untuk memenuhi minat dan ekspektasi berbagai kelompok
pengunjung. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan dan diversifikasi
koleksi di museum, serta upaya pemasaran dan promosi yang lebih efektif untuk
meningkatkan daya tarik dan kesadaran masyarakat terhadap potensi yang ada di Museum
Buleleng.
c)
Minimnya publikasi dan promosi terkait
dengan Museum Buleleng menjadi penyebab, terkadang dalam periode satu atau dua
hari, museum tersebut sepi pengunjung. Dibutuhkan upaya lebih lanjut dalam
menyosialisasikan keberadaan dan keunikan museum ini kepada masyarakat.
2. Solusi
a) Diperlukan perhatian dan peningkatan
usaha dalam merawat museum, termasuk koleksi dan alas yang digunakan untuk
memajang karya seni sejarah seperti lukisan dan gambar. Pengelolaan anggaran
untuk pemeliharaan museum harus dioptimalkan dengan baik agar dapat mencegah
kerusakan pada tempat penyimpanan koleksi museum. Hal ini bertujuan agar
pengunjung dapat merasa nyaman dan memperoleh kesan puas ketika mengunjungi
museum. Untuk meningkatkan pengalaman pengunjung,
perlu dilakukan perbaikan dan penggantian alas lukisan yang rusak dengan bahan
yang lebih tahan lama dan estetis. Selain itu, pembaruan tata letak dan
presentasi koleksi dapat membantu menciptakan atmosfer yang lebih menarik dan
memikat bagi para pengunjung museum
b) Penting untuk menambahkan koleksi museum dengan lebih banyak benda, mengingat masih banyak benda bersejarah yang sering ditemukan di berbagai desa di Kabupaten Buleleng. Upaya ini dapat dilakukan melalui kunjungan ke berbagai desa yang memiliki benda-benda bersejarah, dilanjutkan dengan sosialisasi dan kerjasama dengan pihak desa untuk melestarikan serta memamerkan benda-benda bersejarah tersebut di museum. Dengan cara ini, museum dapat mengenalkan lebih banyak warisan sejarah yang beragam kepada pengunjung dan memberikan dampak positif terhadap pemeliharaan budaya lokal.
c) Untuk meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang Museum Buleleng secara menyeluruh, langkah penting yang perlu diambil adalah memperkenalkannya melalui penyuluhan kepada siswa dari berbagai tingkat pendidikan. Selain itu, pembuatan media sosial menjadi hal yang tak kalah signifikan dalam era teknologi saat ini, karena dapat memberikan dampak besar dalam memperluas jangkauan publikasi museum. Dengan demikian, Museum Buleleng dapat menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luas, dan diharapkan jumlah pengunjung yang tertarik untuk mengunjungi museum ini dapat meningkat secara signifikan.. Meningkatkan promosi melalui berbagai saluran, termasuk media sosial, papan informasi, dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan menarik minat pengunjung untuk mengunjungi museum. Selain itu, melibatkan masyarakat lokal dan berbagai kelompok komunitas dalam kegiatan atau acara di museum juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kunjungan dan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat sekitar.

Komentar
Posting Komentar